Menjelang rekapitulasi hasil
penghitungan suara resmi Pilpres 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22
Juli, sejumlah pihak ramai-ramai mengeluarkan hasil penghitungannya. Salah satunya adalah situs www.kawalpemilu.org.
Situs tersebut dikelola mantan juara Olimpiade Matematika dan seorang alumnus
Nanyang Technological University, Ainun Najib.
Juru bicara pasangan capres dan
cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK), Anies Baswedan mengapresiasi kerja Kawalpemilu.org
tersebut. "Terobosan baik dalam Pemilu
dan demokrasi kita adalah masyarakat mengawasi pemilu secara aktif," ujar
Anies dalam keterangan tertulisnya, Kamis 17 Juli 2014.
Si pembuat situs mengatakan, situs
ini dibuat untuk menyambut ajakan Presiden Suslio Bambang Yudhoyono (SBY) untuk
mengawal proses penghitungan suara. "Kedua capres juga menyerukan
untuk mengawal. Kita lihat datanya tersedia, dan secara teknologi informasi
bisa dikerjakan," ujar Ainun.
Ainun mengaku, ada sekitar 700
relawan yang berkontribusi menginput data. "Ini semua gratis,"
ujarnya saat ditanya asal sumber dana proyek ini. Sementara itu, sampai Kamis 17 Juli
2014 pukul 09.30 WIB, www.kawalpemilu.org telah memproses data dari
449.933 atau sekitar 99,47% TPS yang datanya tersedia.
Hasilnya, pasangan Jokowi-JK unggul
dengan raihan 52,82 persen (65.769.797 suara). Sementara, pasangan
Prabowo-Hatta memperoleh 47,17 persen (58.745.742 suara). Dari keterangan di situs tersebut,
data di situs ini berasal dari scan form C1 yang di-publish oleh KPU dan
didigitisasi dengan bantuan relawan netizen yang independen. Sementara,
"Data tabulasi DA1 berasal dari http://rekapda1.herokuapp.com/ dan
tersedia sampai level kabupaten."
Hasil penghitungan dari Kawalpemilu.org,
mirip-mirip dengan hasil hitung cepat 8 lembaga survei yang memenangkan
pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla atau Jokowi-JK.Kedelapan lembaga itu adalah
Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Center for Strategic and International
Studies (CSIS)-Cyrus, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Litbang
Kompas, Indikator Politik, RRI, Populi Center, dan Poltracking.
Sedangkan 4 lembaga survei lainnya
yaitu Jaringan Suara Indonesia (JSI), Puskaptis, Lembaga Survei Nasional (LSN),
dan Indonesia Research Centre (IRC) memenangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta
Rajasa.
Sementara itu, pakar Matematika Tras Rustamaji melihat ada
kejanggalan dari hasil quick count atau hitung cepat yang dilakukan
lembaga survei SMRC serta Indikator Politik. Rustamaji mengaku sebagai seorang
yang independen yang melihat kejanggalan saat proses hitung cepat. Ia
sehari-hari bekerja sebagai Kepala Sekolah di Madrasah Aliyah Teknonaturah di
Depok dan juga mengikuti kejuaraan olimpiade matematika di Jerman.
"Awalnya Jokowi unggul karena 6
TPS masuk memenangkan Jokowi tapi makin lama menurun dan bersinggungan. Jam
13.05 Prabowo 52,94 persen dan Jokowi 47,06 persen, saya hampir nyatakan
Prabowo pemenangnya karena grafik mulai lurus dan tingkat margin kecil,"
kata Rustamaji di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Rabu 16 Juli 2014.
"Ini kejanggalan yang sangat
terang dan nyata. Ini bisa terjadi apabila data dikumpulkan awal diganti dengan
yang baru," tambahnya.
Penjelasan SMRC dan Indikator
Direktur Indikator Politik
Burhanuddin Muhtadi usai mengikuti audit lembaga survei di Hotel Sari Pan
Pacific, Selasa 15 Juli, mencurigai ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk
mendelegitimasi sejumlah lembaga survei yang melakukan quick count.
Upaya legitimasi itu makin terlihat
dengan adanya isu memojokkan lembaga-lembaga survei itu. Semisal, kata
Burhanuddin, Radio Republik Indonesia (RRI) yang juga melakukan survei sampai
dibawa ke Komisi I DPR. "Ada juga SMRC disibukkan
dengan kesalahan algoritma dalam stabilitas data. Ada yang memata-matai
Poltracking sampai malam," tutur Burhanuddin.
Direktur Riset SMRC Djayadi Hanan
yang dikutip Liputan6.com dari website SMRC pada 16 Juli 2014
menjelaskan, beberapa saat setelah SMRC mengumumkan hasil hitung cepat,
beberapa orang yang mengakses dan menyimak tayangan grafik hitung cepat SMRC
mempertanyakan seputar stabilitas suara yang dianggap tidak konsisten alias
mengalami perubahan pola.
Karena itu, SMRC mengeluarkan
makalah panjang yang bisa dilihat di website SMRC yang intinya, masalah grafik
stabilitas dalam hitung cepat SMRC disebabkan oleh kesalahan dari sisi
algoritma dan pemrograman IT, bukan karena intervensi manual.
"Yang paling penting, masalah
grafik stabilitas tersebut sama sekali tidak berpengaruh terhadap proses
penghitungan total perolehan suara calon maupun penghitungan
statistik-statistik lainnya. Hal ini dikarenakan grafik stabilitas dibuat
melalui proses yang terpisah dari penghitungan statistik yang lain,"
terangnya.
Jejak Quick Count
Sementara itu, menjelang pengumuman
resmi KPU, kredibiltas sejumlah lembaga survei juga dipertanyakan. Menurut
anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei dan Opini Publik (Persepi) Hamdi Muluk,
audit terhadap lembaga survei yang melakukan hitung cepat pada Pilpres 2014
sangat mudah ditelusuri.
"Hitung cepat pasti ninggalin jejak, gampang
menelusurinya. It's simple," kata Hamdi dalam diskusi bertema
'Quick Count, Etika Lembaga Riset, dan Tanggung Jawab Ilmuwan' di Universitas
Paramadina, Jakarta, Kamis 17 Juli.
Audit dapat dimulai dengan bukti
dokumentasi otentik, metodologi, dan sampel yang digunakan setiap lembaga
survei. Proses berikutnya, auditor dapat memverifikasi data-data tersebut
secara langsung melalui bantuan penyedia layanan telekomunikasi.
Sementara itu, menurut Peneliti
Prisma Resource Center Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi
dan Sosial (LP3ES) Daniel Dhakidae, penelusuran hitung cepat sangat mudah dan bukan hal misterius.
Dia mengatakan, yang membedakan
hanya kualitas sampel dan metodologi masing-masing lembaga. Setiap lembaga
tentu memiliki basis data.
Yang terpenting, kata Daniel, setiap
lembaga survei harus menjadi bagian informasi tetap kepada masyarakat. Etika
ilmiah dari proses survei harus dapat dipertanggungjawabkan di depan asosiasi
lembaga survei. Sementara itu, Persepi memutuskan mengeluarkan JSI dan
Puskaptis dari kelembagaan.
Akibat perbedaan hasil pemenang
Pilpres 2014 dari hitung cepat sejumlah lembaga survei, 8 lembaga survei yang
merilis hasil hitung cepat Pilpres 2014 dipolisikan oleh tim Advokasi Indonesia
Raya (AIR). Kedelapan lembaga survei itu, yakni Populi Center, CSIS-Cyrus,
Litbang Kompas, LSI, RRI, Pol Tracking Institute, SMRC, dan Indikator.
Tim Pemenangan Prabowo-Hatta juga
melaporkan 2 peneliti survei, Direktur Eksekutif Lembaga Indikator Politik
Indonesia Burhanudin Muhtadi dan Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
Denny JA ke Bareskrim Mabes Polri. Hamdi Muluk mengatakan, pelaporan itu justru
akan berdampak positif bagi terkuaknya lembaga survei
yang tidak kredibel.
Peneliti LSI Adjie Alfaraby menilai,
pelaporan tersebut bentuk kriminalisasi hasil temuan ilmiah karena
sesungguhnya exit poll dan quick count juga merupakan produk
ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pelaporan itu juga dinilai dia
menunjukkan pembatasan partisipasi masyarakat dalam pesta
demokrasi, terlebih ini merupakan pemilihan presiden. Masyarakat memiliki hak
berpartisipasi dalam bentuk apa pun termasuk merilis exit poll dan
quick count.
sumber :
http://indonesia-baru.liputan6.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar